Just be you.

it’s silly when you told people to do these, to do those easily, but you can’t do it on your own self. Forgive me, sometimes I just find it hard when the situation comes to my way. May I once or twice told you to do not over-think or over-act about something. But i did the same way 😅.

Advertisements

Obrolan Ringan.

Once, a friend of mine told me,

“Growing up isn’t easy process. But when we growing up, we supposed to understand our self, which with understanding, we will have (more) control to our self.”

Lelah yang tidak terdefinisikan

Ku gatau orang lain banyak yang ngalaminnya juga atau ngga, tapi yang jelas aku selalu ngerasa lelah kalau terlalu lama berinteraksi dengan banyak orang, terlebih apabila diantara orang-orang itu bukan orang-orang yang ku kenal dengan baik. Bahkan terkadang, walaupun kumpul dengan teman-teman sendiri, yang sudah lama ku kenal, kalau durasinya kelamaan pun, aku akan merasa kelelahan, padahal kita ga ngapa2in, misal cuma jalan di mall atau kelamaan ngobrol di tempat makan.

Sering aku pengen ngelawan rasa lelah ini, tapi ya gimana, kan pengen juga kumpul-kumpul kek yang lainnya. Bukannya nyari bahan untuk excuse, tapi hal ini salah satu alasan aku sering menolak untuk gabung dengan suatu kegiatan sosial/kepanitiaan/ajakan nongkrong2 ga jelas. Ku ga pengen tiba-tiba kelelahan karena terlalu banyak berinteraksi dengan people. Konyol si emang rasanya kalo dipikir-pikir (bahkan ku sendiri pun merasakannya begitu), kadang ku ga terima situasi seperti ini, tapi ya mau gimana lagi, aku yang selalu berusaha untuk melawan semua fakta itu, tapi akhirnya malah aku sendiri yang merasa kelelahan diakhir.

So, maaf banget buat orang-orang di sana yang (mungkin) menganggap aku ini orang yang kaku,  seolah punya tembok sendiri jadi susah buat orang lain untuk nge-approach, sombong, atau ansos atau apapun itu namanya, ku pengen bilang ku ga gitu kok sebenarnya hehe, cuma terkadang situasi disekitar yang ngebuat aku terlalu kelelahan dan sifat jutek/ketus ku otomatis keluar kalau lagi lelah :))

Oiya satu lagi, ku kadang juga ga suka menjelaskan alasan dibalik semua action-ku kalau kebetulan ada yang nanya, karena ku punya prinsip gini, aku ga butuh semua orang untuk mengerti aku, cukup pengertian satu atau beberapa orang yang aku pedulikan yang aku perluin, so kalau kebetulan ku tiba-tiba curcol sama kamu tentang kondisi aku yang blablablabla…, congrats, itu artinya kamu adalah salah satu dari sekian orang yang aku pedulikan :), —bukan karena aku ini orang yang suka membicarakan diri sendiri– itu karena aku ga mau kamu salah paham terhadap aku 🙂 aku pasti gaakan berani bilang ini secara langsung, makanya ku tulis disini hahahah (berharap) kamu kesasar kesini somehow.

Dan seperti Mark Manson katakan,
Seiring dengan berjalannya waktu, nilai/prinsip yang dianut sesorang pasti akan berubah, namun bukan berarti dirinya terbebas dari keliru, melainkan mendapati lebih sedikit keliru. Bisa jadi juga mungkin, someday, prinsip aku pun berubah seiring berjalannya waktu, tapi untuk saat ini aku masih tetap dengan prinsip itu.

Kutipan terakhir (dari entah berantah) untuk mengakhiri curhatan yang lebay ini,

“You are the only one who can understand yourself completely, people may not understand you or your situation as an introvert,  but you know better than anything else. Learn to love yourself, enjoy yourself the way as it is, and just forget what the world thinks. Just like anyone else, you have the free will to act as you wish, as long as it doesn’t harm others”.

Menentukan “benar” atau “salah”.

Pagi all.

Terkadang ada saatnya ketika kita bingung untuk memutuskan suatu hal itu benar atau salah, penyebabnya bisa karena kurangnya pengetahuan kita terhadap hal tersebut, atau mungkin karena banyak orang yang menilainya benar, tapi diri kita sendiri yakin kalo itu salah. Sehingga jadinya kita bingung, harus ngikutin yang mana, diri sendiri atau kebanyakan orang.

Biasanya kalau mendapati situasi seperti ini, aku si ngeyakinin dulu apa yang telah aku percayai sebelumnya, trus mencoba memahami orang lain mengapa memiliki penilaian yang berbeda.

Intinya, bagi saya benar atau salah-nya tidak terlalu penting, melainkan bagaimana kita memahami pemikiran orang lain ketika dia memutuskan suatu hal itu “baik” atau “tidak” bagi dirinya atau orang lain atau lingkungannya. Setelah kita memahaminya, pasti kita akan mengerti dia, mengerti jalan berpikirnya. Jangan pernah memaksakan seseorang untuk mengikuti prinsip/jalan pikiran diri kita. Kecuali emang semua orang tau kalau jalan pikirannya ada yg salah dan harus diluruskan. And then have a peace world 🙂

Akhir kata sebagai penutup, (sampai saat ini) aku meyakini kalo gaada yang mutlak benar di dunia ini, kecuali yang ada di AlQuran dan Hadist. Menanggapi semua hal di dunia ini kita hanya berproses untuk mendekati kebenaran.

Bye.
Have a good day all!

Complicated me.

Aku ga suka jadi orang yang harus ngambil keputusan akhir, tapi ku suka sebatas memberikan saran or menunjukan keputusan mana yang bisa diambil. Karena kalo ku yang ngambil keputusan dan ada orang yang menentangnya, ku gasuka kondisi itu. Bukan gasuka sama orangnya. Tapi lebih ke aku gamau bedebat banyak, so kalo kamu udah ngasi mandat ke aku buat nentuin keputusan, yaudah iya-in aja jangan malah banyak nanya why, ku gasuka menjelaskan, cause it’s becoming complicated sometimes. Kita memang ga bisa menyenangkan semua orang, tapi kadang ku benci nerima kenyataan itu. Ku pengen kita semua merasa sama2 senang dengan keputusan yang diambil. Or setidaknya please, terima keputusan apapun itu dengan lapang dada, tanpa nyinyir.

Aku egois ga?
Seolah pengen dihargai tapi ga ngehargai orang lain ._.

Pengen deh teriak:

Ini Karena aku peduli dengan diri sendiri, ku pengen berubah jadi lebih baik, ku cerita ini bukan seolah egois karena ngimongin diri sendiri terus, itu karena ku nganggep kamu orang penting, so ku pengen denger pendapat kamu, menjadikan saran itu sebagai acuan untuk jadi lebih baik.