Lelah yang tidak terdefinisikan

Ku gatau orang lain banyak yang ngalaminnya juga atau ngga, tapi yang jelas aku selalu ngerasa lelah kalau terlalu lama berinteraksi dengan banyak orang, terlebih apabila diantara orang-orang itu bukan orang-orang yang ku kenal dengan baik. Bahkan terkadang, walaupun kumpul dengan teman-teman sendiri, yang sudah lama ku kenal, kalau durasinya kelamaan pun, aku akan merasa kelelahan, padahal kita ga ngapa2in, misal cuma jalan di mall atau kelamaan ngobrol di tempat makan.

Sering aku pengen ngelawan rasa lelah ini, tapi ya gimana, kan pengen juga kumpul-kumpul kek yang lainnya. Bukannya nyari bahan untuk excuse, tapi hal ini salah satu alasan aku sering menolak untuk gabung dengan suatu kegiatan sosial/kepanitiaan/ajakan nongkrong2 ga jelas. Ku ga pengen tiba-tiba kelelahan karena terlalu banyak berinteraksi dengan people. Konyol si emang rasanya kalo dipikir-pikir (bahkan ku sendiri pun merasakannya begitu), kadang ku ga terima situasi seperti ini, tapi ya mau gimana lagi, aku yang selalu berusaha untuk melawan semua fakta itu, tapi akhirnya malah aku sendiri yang merasa kelelahan diakhir.

So, maaf banget buat orang-orang di sana yang (mungkin) menganggap aku ini orang yang kaku,  seolah punya tembok sendiri jadi susah buat orang lain untuk nge-approach, sombong, atau ansos atau apapun itu namanya, ku pengen bilang ku ga gitu kok sebenarnya hehe, cuma terkadang situasi disekitar yang ngebuat aku terlalu kelelahan dan sifat jutek/ketus ku otomatis keluar kalau lagi lelah :))

Oiya satu lagi, ku kadang juga ga suka menjelaskan alasan dibalik semua action-ku kalau kebetulan ada yang nanya, karena ku punya prinsip gini, aku ga butuh semua orang untuk mengerti aku, cukup pengertian satu atau beberapa orang yang aku pedulikan yang aku perluin, so kalau kebetulan ku tiba-tiba curcol sama kamu tentang kondisi aku yang blablablabla…, congrats, itu artinya kamu adalah salah satu dari sekian orang yang aku pedulikan :), —bukan karena aku ini orang yang suka membicarakan diri sendiri– itu karena aku ga mau kamu salah paham terhadap aku 🙂 aku pasti gaakan berani bilang ini secara langsung, makanya ku tulis disini hahahah (berharap) kamu kesasar kesini somehow.

Dan seperti Mark Manson katakan,
Seiring dengan berjalannya waktu, nilai/prinsip yang dianut sesorang pasti akan berubah, namun bukan berarti dirinya terbebas dari keliru, melainkan mendapati lebih sedikit keliru. Bisa jadi juga mungkin, someday, prinsip aku pun berubah seiring berjalannya waktu, tapi untuk saat ini aku masih tetap dengan prinsip itu.

Kutipan terakhir (dari entah berantah) untuk mengakhiri curhatan yang lebay ini,

“You are the only one who can understand yourself completely, people may not understand you or your situation as an introvert,  but you know better than anything else. Learn to love yourself, enjoy yourself the way as it is, and just forget what the world thinks. Just like anyone else, you have the free will to act as you wish, as long as it doesn’t harm others”.

Advertisements

Menentukan “benar” atau “salah”.

Pagi all.

Terkadang ada saatnya ketika kita bingung untuk memutuskan suatu hal itu benar atau salah, penyebabnya bisa karena kurangnya pengetahuan kita terhadap hal tersebut, atau mungkin karena banyak orang yang menilainya benar, tapi diri kita sendiri yakin kalo itu salah. Sehingga jadinya kita bingung, harus ngikutin yang mana, diri sendiri atau kebanyakan orang.

Biasanya kalau mendapati situasi seperti ini, aku si ngeyakinin dulu apa yang telah aku percayai sebelumnya, trus mencoba memahami orang lain mengapa memiliki penilaian yang berbeda.

Intinya, bagi saya benar atau salah-nya tidak terlalu penting, melainkan bagaimana kita memahami pemikiran orang lain ketika dia memutuskan suatu hal itu “baik” atau “tidak” bagi dirinya atau orang lain atau lingkungannya. Setelah kita memahaminya, pasti kita akan mengerti dia, mengerti jalan berpikirnya. Jangan pernah memaksakan seseorang untuk mengikuti prinsip/jalan pikiran diri kita. Kecuali emang semua orang tau kalau jalan pikirannya ada yg salah dan harus diluruskan. And then have a peace world 🙂

Akhir kata sebagai penutup, (sampai saat ini) aku meyakini kalo gaada yang mutlak benar di dunia ini, kecuali yang ada di AlQuran dan Hadist. Menanggapi semua hal di dunia ini kita hanya berproses untuk mendekati kebenaran.

Bye.
Have a good day all!

Who’s know people’s heart?

Good day everyone!

Berbicara tentang menjalani kehidupan, pasti terdapat banyaaaak kisah yang dapat diceritakan dan banyak hikmah pula yang dapat diambil dari setiap kisah tersebut.

Entah sejak kapan aku menyadarinya, tapi yang jelas aku selalu berprinsip, setiap orang pasti berbeda. Setiap orang pasti ada baik dan ada buruknya. Setiap orang pasti punya point of view sendiri. So maklumi saja. Just be you, the way like you want to be treat by others.

Walau terkadang ga selamanya apa yang ada di hati orang lain tercerminkan juga dalam actionnya. Kadang juga kita menjumpai ada orang -let’s say si Buah-, yang ketika ngobrol sama si A bilang suka apel, tapi saat ngobrol ke si B bilang suka jeruk. Tapi ini ga sepenuhnya salah juga kan ya? Siapatau dalam perjalanannya setelah ngobrol dengan si A, si Buah menemukan pengalaman/sudut pandang baru yang akhirnya dia berubah pikiran jadi suka jeruk.

Kita ga bisa langsung nge-judge si Buah ini orang yang plin plan atau orang yang bermuka dua. Yaa karena we never know what exactly on his/her mind and heart atau  apa yang telah didapatkannya dari yang telah dilaluinya.

So, kesimpulannya?

Who’s know people’s heart?

No one ever will be know, and that isn’t something for you to know too.

 

Salam 😊

Pernah kepikiran ga sih?

Pernah kepikiran ga sih, saat kalian bigung tentang suatu hal, terus kalian mengajukan hal tersebut dalam bentuk pertayaan yang sama ke orang yang berbeda, dan kalian mendapati jawaban yang berbeda juga, terus kalian penasaran kenapa si A menjawab begini, sedangkan si B menjawab begitu? Tapi kamu ngerasa baik si A dan si B itu ada benarnya, dan kamu menjadi bingung sendiri sebenarnya apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan itu. Dan ujung-ujungnya kamu menyimpulkan kalau di dunia ini tidak ada hal yang salah, hanya masalah sudut pandang saja.

Mungkin si A menjawab begitu karena pengalaman hidupnya berbeda dengan si B, dan sangat mungkin si A tidak pernah merasakan menjadi si B, dan sebaliknya sehingga mereka punya jawaban yang berbeda.

Tapi disisi lain, si A dan si B ini gamau kalo jawaban mereka disamakan, mereka mau menang dengan pemikirannya masing-masing. Tapi kalian ngerasa mereka sebenarnya ga perlu begitu, karena kalian ngerasa si A dan si B sama-sama ada benarnya. Jadi ya.. gimana ya.. akhirnya kalian jadi ga fokus sama jawaban yang mereka kasih, kalian jadinya menganalisa sifat si A dan si B berdasarkan tingkat “pertahanan” mereka terhadap pemikirannya.