Iya?

Sering ku denger orang bilang, kurang lebih intinya kek gini, “Iya-in dulu aja”, tapi kadang tanpa langsung dibarengi dengan action iya itu. Gatau si maksudnya juga apa. Karena aku selalu kepo dengan behavior orang, setelah ku amati beberapa sampel (alah wkwk), ternyata orang-orang yang mendahulukan “meng-iya-kan” itu kebanyakan orangnya easy going. Ga ribet. Santai. Kurang peduli/ ga mempermasalahkan masalah kecil. Dan ga punya pemikiran jangka panjang mengenai dampak dari hal-hal yang dilakukannya. Jadi bodo amat gitu.

Kalo orang yang gak langsung “meng-iya-kan”, misalnya dibarengi dengan kata-kata lain, seperti “hm..”, “sebentar ya..”, “gimana ya..”, “dipikirin dulu..”,”mau si..”, cenderung tipe orang yang pemikir, berhati-hati dalam bertindak. Kaku. Dan punya vision (mungkin) takut-takut actionnya nanti ga sinkron sama ucapannya. Mungkin didalam dirinya ada beberapa pertimbangan lain, jadi agak menahannya untuk bilang “iya”.

Tapi keduanya ada plus minusnya menurutku. Kalo kalian cenderung ke yang mana?
Alasannya?

Advertisements

Care not care.

Terkadang saat kita merasa kita memedulikan seseorang, kita merasa seolah-olah kita berhak menentukan pilihan atas orang tersebut agar dirinya menjadi lebih baik. Namun ternyata hal ini bukanlah hal yang seharusnya dilakukan orang yang peduli. Seharusnya kita menyadari batasan, bahwa hidup dia adalah miliknya. Kita tidak boleh dengan gampang memilihkan pilihan -yang menurut versi kita- terbaik untuknya, karena kita merasa dia tidak cukup mampu untuk membuat pilihan tersebut. Sebaliknya, walaupun terkesannya kita menjadi orang yang kurang peduli, tapi tetap membiarkannya memilih dan menentukan pilihannya sendiri adalah jalan yang paling benar. Bolehlah kita haya sebatas memberikan pandangan kita terhadap masalah yang dimilikinya dan mensuggest aspek pertimbangan apa yang sebaiknya digunakan untuk memutuskan pilihannya. Biarkanlah dirinya berpikir dan berkembang. Buatlah dirinya merasa kuat dan mampu menghadapi masalahnya sendiri.