Projek Arduino #1 : Pendeteksi Suhu Ruangan

Hmmm….

Akhirnya saya bisa juga membuat postingan tentang projek yang telah diberikan dua minggu yang lalu yeyeeee….

Sebelum membahas mengenai perjalanan pembuatan projeknya, saya mau memperkenalkan dulu teman sekelompok seperjuangan dalam pembuatan projek ini, yaitu ada Yuni Citrawati, Airen Rizky, dan Adinda Juwita Ningtyas.

Alat yang digunakan

Dalam projek pertama kali ini kelompok kami berencana untuk membuat alat pendeteksi suhu ruangan dengan menggunakan arduino uno sebagai mikrokontrollernya, sensor suhu LM35, dan seven segment untuk menampilkan angka suhunya. Untuk lebih lengkapnya, semua alat dan komponen yang kami gunakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

komponen

Proses Menuju Keberhasilan

Pada hari Selasa, tepatnya tanggal 9 Februari 2016, kelompok kami mulai mengerjakan projek ini. Airen dan Yuni yang bertugas membeli semua komponen yang diperlukan karena saya dan Dinda ada kelas. Kami mengerjakannya sekitar puku 13.00 di kosannya Airen. Selama proses pembuatan pendeteksi suhu ini, awalnya kami melihat referensi buku “Arduino Cookbook”. Namun, proses pembuatan dan perangkaian tidak berjalan dengan mulus. 

Sensor LM35 menunjukan suhu celcius 400an!

Pertama, saat kami mencoba membuat rangkaian sederhana yang dapat membaca suhu ruangan, kami gagal suhu yang telihat di serial  monitor berkitar 400an derajat celcius ! gila kan? masa kosan Airen sepanas itu?. Padahal kami telah mengikuti semua langkah-langkah yang ada di buku referensi. Tidak tahu kenapa, padahal rangkaiannya sangat sederhana, tapi tidak berhasil.  

The Power of….

Setelah mendapati angka pembacaan yang tidak sesuai dan setelah berkali-kali mencari-cari sumber kesalahan dan sumber referensi yang lain, semangat kelompok kami mulai menurun huhhuuu. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur sejenak *kurang ajar emang, disaat yang lainnya sedang bersusah payah mencari penyebab error, saya malah tidur siang*.

20 menit berlalu…

Saya akhirnya terbangun dari tidur siang yang sangat singkat *terbangun karena yang lainnya berisik banget ketawa ketiwi*. Tapi pada saat itu angka pembacaan sensornya masih ngaco, saya pikir mereka ketawa ketiwi karena telah berhasil. Akhirnya saya mengusulkan untuk membongkar rangkaian tersebut dan merangkai ulang. Semua setuju. Yaudah deh saya mulai ngelepasin semua kabel-kabel yang menancap di breadboard dan menrangkai ulang seperti semula dengan arahan dari teman-teman. Ajaibnya, setelah dirangkai ulang, akhirnya pembacaan suhu jadi berhasil ! yeyeeeee. Suhu yang dibaca merupakan suhu ruangan saat itu, sekitar 20an derajat celcius. Aneh, padahal saya tidak melakukan apa-apa, saya hanya membuat jumpernya lebih pendek agar terligat lebih rapi. Hahaha sampai saat ini pun kelompok kami masih bertanya-tanya apakah penyebabnya kenapa sebelumnya sensor membaca 400an derajat dan sekarang setelah saya rangkai ulang menjadi 20an derajat.

Seven Segment ga mau nyala 😦

Setelah mendapati pembacaan suhu yang berhasil, kami mulai mengerjakan seven segment-nya. Kami menginginkan agar pembacaan suhunya ditampilkan pada dua buah seven segment. Mulailah kami membaca-baca lagi sumber referensi dan mulai merangkai sesuai dengan instruksinya. Kali itu yang pertama merangkai adalah Yuni dan Dinda. Sedangkan Airen yang memberikan arahan dan Saya membantu Airen membacakan instruksinya. Namun, setelah beres dirangkai, seven segment-nya tidak mau menyala 😦 Lagi-lagi kegagalan menghampiri kami huhuuuu. Namun karena hari semakin sore dan hujan turun semakin lebat, kami memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan besok. Saya dan Yuni pulang sekitar pukul 19.30 WIB, sedangkan Dinda ga pulang karena dia satu kosan dengan Airen.

Status proyek hari Selasa, 9 Februari jam 23.36 WIB

Setelah saya dan Yuni pulang, Airen dan Dinda mencoba untuk melanjutkan mengerjakan proyek. Namun, saya tidak tahu persis apa yang meraka lakukan, mungkin lebih jelasnya bisa dibaca di website Airen dan di website Dinda. Namun, saat pukul 23.36 Airen memberi kabar bahwa status proyek masih sama seperti saat saya dan Yuni menginggalkan kosan Airen. Nih ada screenshoot dari chat Airen yang mengabari kami di grup Line.

_20160211_110458

Seven Segment akhirnya nyala, tapi ngaco 😦 😦

Keesokan harinya, kami (minus Dinda, karena Dinda ada urusan) mulai mengerjakan kembali rangkaian alat pendeteksi suhu. Hari itu kami mulai mengerjakan sekitar pukul 13.00 WIB di lantai 4 Perpustakaan Pusat ITB. Seperti biasa, awalnya yang merangkai hanya Airen dan Yuni (karena kalo kebanyakan yang merangkai bakalan ribet). Sedangkan yang saya lakuakan adalah membaca-baca referensi. Alhamdulillah karena rangkaian yang dibuat Airen dan Yuni berhasil menghidupkan seven segmentnya. Tapi sayangnya angka yang ditunjukan oleh seven segment bukan angka yang seharusnya. Segmentnya menyala secara random, tidak menunjukan angka berapapun dan lagi-lagi pembacaan suhu yang ditunjukan di serial monitor berkisar 400an derajat!

Hmmm…. dari sini saya mulai berhipotesis apakah memang harus saya rangkai ulang seperti kemarin agar rangkaiannya dapat jalan atau bagaimana.

(Lagi) The Power of….

Setelah mendapati kasus seperti itu dan setelah bersusah payah *lebay* merayu Yuni agar membolehkan saya membongkar rangkaian yang telah ia dan Airen rangkai, akhirnya saya diperbolehkan untuk membongkar rangkaian itu (karena rangkaiannya memang ribet sih, makanya Yuni kurang rela jika saya merusaknya hahaha). Satu per satu saya melepaskan kabel jumper yang melekat. Kemudian saya mulai merangkai ulang dengan arahan yang Yuni berikan. Ada sedikit perubahan, yaitu kami menambahkan 4 buah resistor berukuran 220ohm dalam rangkaiannya yang sebelumnya hanya menggunakan 1 buah resistor ukuran 220ohm.

Dan lagi-lagi kejadian ajaib terjadi! Aneh! Rangkaian akhirnya menunjukan suhu yang tepat dan seven segment menunjukan angka suhunya secara tepat setelah saya yang merangkainya hahahaha. Apakah ini memang benar-benar the power of… *ehem*. Yang jelas kami sekelompok bahagia, terharu, gembira *lebayy* karena akhirnya proyek ini selesai juga 🙂

 

Hasil Akhir

Alhamdulillah wa syukurillah… Akhirnya setalah penantian dan perjalanan yang sangat panjaaaaaaaaaang, alat pendeteksi suhu milik kami berhasil yeyeyeeeee……. Walaupun rangkaiannya sangat amat teramat acak-acakan (kabel pasuliwer dimana-mana kalo kata orang Sunda mah) tapi kami sangat senang karena akhirnya kami selesai juga menciptakan alat pendeteksi suhu *hahaha*.

Berikut foto skema dari rangkaian yang kami buat.

Arduino1

Tapi sayang nih karena saking senengnya, kelompok kami tidak mendokumentasikan fotonya secara lengkap (huhuuuu, ini juga sebenernya karena keterbatasan kamera yang kelompok kami miliki 😦 ). Akhirnya dengan baik hati, Ketua Himpunan HMIF yang baru –sebut saja Bimo- yang kebetulan ada disana bersedia meminjamkan handphone-nya sehingga kami dapat membuat video demonstrasi alat pendeteksi suhu ruangan yang kami buat. Berikut videonya.

 

 

nb:

*sebenernya pembacaan sensor berkisar 400an derajat celcius dikarenakan jumper yang menempel ke ground-nya kurang kuat dan ada resistor di kaki output sensor LM35.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s