“After all, love is all about timing.”

– On Your Wedding Day

Advertisements

Ruminasi.

Ruminasi.
Istilah ilmu psikologi yg merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mengingat terus kejadian buruk yang menimpanya, mengulangi rasa sakit yang sama seperti ketika pertama kali mengalaminya, membuat keadaan (psikologi) malah jadi semakin parah (tertekan, terluka, depresi), singkatnya bisa dibilang “gagal moveon”.

Kalo untuk sebagian orang menceritakan masalah ke orang lain bisa meringankan bebannya, beda sama orang yg punya kecenderungan ruminasi. Orang ini mungkin hanya akan diam ketika dia sedang bersedih, bahkan ketika orang lain bertanya, “ada apa?”, “kenapa?”, Atau membujuk agar kita menceritakan hal yg mengganggunya “ceritain aja biar lega, kita kan teman”. Hal tsb bukan hal yg mudah.

Jadi, peran kita disini sebagai seorang teman atau sesama manusia adalah, biarkan aja hal itu. Biarkan dulu dia berusaha menyelesaikan pemikirannya, karena kalau mau, tanpa dipaksa dia pasti akan cerita. Dan mungkin ketika bercerita itu dia telah berhasil menangani ruminasi dalam benaknya, sehingga cerita karena sebatas ingin share dan ingin didengar saja sambil menguatkan dirinya, bukan mencari solusi atau cerita tandingan yang sebanding dengan kisahnya.

Aku punya keyakinan manusia itu kompleks. Tiap individu berbeda dan gabisa di sama-samain. Tiap individu punya pengalaman masing-masing. Dari pengalamannya itulah karakternya terbentuk.

MasyaAllah, itulah kuasa Allah yang menjadikan kita (manusia) begitu indah dangan segala macam karakteristiknya.

INFJ

“An INFJ gives their final answer wholeheartedly, truthfully, certainly, permanently, and absolutely.”

So, if i said yes, it definitely yes. If i said no, it definitely no. If i said i love you, yes i do. If i said i dont like you, its true, not because i hate you, i just feel that way.

Notes. The quotes from https://www.quora.com/When-does-an-INFJ-stop-caring/answer/Rimedane?ch=3&share=3e0db495&srid=3POEO

Patah Hati! Ugh.

Hari ini aku mau cerita.

Akhirnya, setelah sekian lama aku menyimpannya, aku mencoba untuk mengungkapkan isi hati aku lewat tulisan ini. Semoga aku sanggup ceritanya ya. Haha

Jadi gini, aku gatau apa yang aku rasain.

Aku mencoba menebak, sepertinya aku sedang patah hati. Hikss.

Continue reading “Patah Hati! Ugh.”

Iya?

Sering ku denger orang bilang, kurang lebih intinya kek gini, “Iya-in dulu aja”, tapi kadang tanpa langsung dibarengi dengan action iya itu. Gatau si maksudnya juga apa. Karena aku selalu kepo dengan behavior orang, setelah ku amati beberapa sampel (alah wkwk), ternyata orang-orang yang mendahulukan “meng-iya-kan” itu kebanyakan orangnya easy going. Ga ribet. Santai. Kurang peduli/ ga mempermasalahkan masalah kecil. Dan ga punya pemikiran jangka panjang mengenai dampak dari hal-hal yang dilakukannya. Jadi bodo amat gitu.

Kalo orang yang gak langsung “meng-iya-kan”, misalnya dibarengi dengan kata-kata lain, seperti “hm..”, “sebentar ya..”, “gimana ya..”, “dipikirin dulu..”,”mau si..”, cenderung tipe orang yang pemikir, berhati-hati dalam bertindak. Kaku. Dan punya vision (mungkin) takut-takut actionnya nanti ga sinkron sama ucapannya. Mungkin didalam dirinya ada beberapa pertimbangan lain, jadi agak menahannya untuk bilang “iya”.

Tapi keduanya ada plus minusnya menurutku. Kalo kalian cenderung ke yang mana?
Alasannya?